"Just because you can't see it, doesn't mean it isn't there" - Laut bukan tempat sampah!

4/3/13

Setu Babakan Kok Begini???...


Halow...
Aku mo cerita lagi yahhh...

Tapi sebelumnya aku mo minta maap dulu yah klo tulisanku berikut ini mungkin menyinggung perasaan seseorang/sekelompok orang yang berkaitan dengan objek wisata Setu Babakan.

Tapi jujur, tulisan ini semata-mata hanya ingin mencoba membantu  agar objek wisata Setu Babakan kedepannya menjadi objek wisata yang lebih baik dan lebih ramah lagi pada pengunjungnya.
Lho lho lho... emang ada apa sih?

Ga seru kalo diceritain di awal, mendingan baca aja terus yahhh...;))

Kejadiannya bermula saat aku, adek sepupuku (Wulan) dan temennya (Devina), melakukan kunjungan wisata ke Setu Babakan pada libur tahun baru 2013 lalu. Jadi, waktu itu rencananya sih pengen keliling Jakarta aja, cari tempat-tempat wisata yang murah meriah tapi tetep asik diliat. So... pilihan jatuh pada Setu Babakan.

Setu Babakan merupakan nama dari sebuah objek wisata yang terletak di Srengseng Sawah, Kec. Jagakarsa, Kab. Jakarta-Selatan. ‘Setu’ sendiri memiliki arti ‘Danau’, jadi Setu Babakan = Danau Babakan.

Yup... sesuai dengan namanya, objek wisata Setu Babakan menjual pemandangan indah danau/setu buatan seluas 30 hektar. Danau buatan ini memiliki kedalaman bervariasi, mulai dari 1 - 5 m. Kata Om Wiki sih air danau ini berasal dari Sungai Ciliwung lho..

Selain ‘menjual’ keindahan danau, Setu Babakan berfungsi sebagai pusat perkampungan budaya Betawi. Tak heran jika kamu masih bisa melihat rumah-rumah khas Betawi di perkampungan yang ada di sekitar setu. Tak hanya itu, di sini juga terdapat berbagai kuliner khas Betawi yang dijual oleh penjaja di sekitar danau. Mulai dari bir pletok, rujak bebek, kerak telor, toge goreng, laksa, soto betawi, dan sebagainya.

Nah, berbekal info dari internet itulah kami bertiga tertarik untuk menjelajah Setu Babakan. Tidak sulit kok untuk mencapai tempat ini. Dari depan stasiun Pasar Minggu, kamu hanya perlu naik bis Kopaja 616 atau Kopaja 606, dan turun persis di depan pintu gerbang Setu Babakan. Ongkos bisnya pun murah, only IDR 2K/orang... *beuhh*

Gerbang/pintu masuk Setu Babakan.

Sekitar pkl. 10.30 WIB, kami tiba di kawasan Setu Babakan. Dari pintu gerbang menuju lokasi danau, kami harus jalan kaki sekitar 15 menit. Di sepanjang jalan rumah-rumah khas betawi menjadi suguhan yang menarik mata.

Rumah khas Betawi.
Ecxiting... itu hal pertama yang aku rasakan saat melihat Danau Babakan yang begitu luas... Langkah demi langkah kaki kami ayun gembira saat mengetahui bahwa tempat wisata ini memang menarik dan murah meriah! Gretong bow.. Hanya yang bawa kendaraan aja yang harus bayar parkir.

Di tepian danau berjejer pepohonan nan rindang dengan bangku-bangku kayu di bawahnya. Sungguh sebuah tempat yang asik banget buat ngelamun, berkhayal, bengong... hush! Awas kesambet loh! :p

Okey okey... ralat, Sungguh sebuah tempat yang asik banget buat santai, bercengkrama bersama teman atau keluarga... ^_^

Danau Babakan..

Sampah di sudut danau.

Hanya dipisahkan oleh jalan paving block, di seberang deretan bangku-bangku kayu tersebut terdapat gerobak maupun warung-warung kecil yang menjajakan berbagai makanan khas Betawi.

Berhubung waktu makan siang memang hampir tiba, sebagai menu pembuka kami memesan kerak telor. Pesan satu saja untuk dimakan bertiga... hihihi ;)) 
Sambil menunggu kerak telor matang, kami duduk di bawah pohon di depan danau.

Kerak telor dan bangku-bangku kayu.

Kegiatan di sekitar danau.

Seorang penjual minuman, sebut saja namanya ‘Miss Jutek’ datang menghampiri. Dia bertanya apakah kami ingin memesan minuman? “Nanti saja Mbak, masih ada air mineral,” jawabku sambil menunjuk botol air mineral yang sengaja aku letakkan di meja kayu.

Tiba-tiba paras Miss Jutek langsung berubah mendengar jawabanku. “Kalo gitu duduknya jangan lama-lama ya, masih banyak kok orang yang mau duduk di situ,” gerutunya sambil memandang kami dengan wajah sinis dan berlalu menuju warung jualannya.

Astaghfirulloh... aku terperanjat mendengar perkataannya. Bertiga kami saling pandang. Untuk sesaat hanya suara angin semilir yang terdengar. Kami terdiam, kaku. Setelah menarik nafas berat, kami mempertanyakan dan menduga-duga maksud dari Miss Jutek tadi.

Untungnya, kerak telor yang kami pesan sudah siap dan si bapak penjual mengantarkannya ke meja kami. Seketika kami lupa dengan kejadian barusan. Sambil bercanda kami menyantap kerak telor tersebut hingga tandas... ^_^

Sempet-sempetin narsis.. ;))

Satu kerak telor dimakan bertiga tentu saja tidak membuat perut kami kenyang. Selanjutnya, kami berjalan menuju gerobak penjual toge goreng dan laksa. Sepiring laksa, dan dua piring toge goreng jadi pesanan kami berikutnya.

Sebagai minuman pendamping, aku mencari penjual bir pletok. Pasalnya, adek sepupuku ingin mencoba minuman khas Betawi ini. Dia belom pernah nyobain cuy, hehehe...  Eits... bir pletok ini cuma namanya aja bir, tapi sama sekali nggak mengandung alkohol kok, karena bahan utamanya adalah jahe, jadinya hangat kalo di minum.. 

Aku melongok ke warung Miss Jutek, tidak ada bir pletok di situ. Mataku pun mengarah pada warung di sebelahnya. Di etalase warung tersebut bir pletok yang dikemas dalam botol-botol sebesar botol sirup berdiri dengan manisnya.

Segera aku menghampiri dan menanyakan harga. Ternyata satu botol bir pletok dijual seharga IDR 20K. Si penjual memang tidak menjajakan bir pletok secara ‘ketengan’. Baeklahh... aku setuju untuk membeli minuman tersebut.

Aku pun meminta pada penjual bir agar mengantar minuman tersebut ke bangku kayu yang ada di depan danau. Tapi apa jawab sang penjual? “Nggak bisa mbak. Mbak duduknya harus di sebelah situ,” ujarnya sambil menunjuk pada deretan bangku kayu yang ada di depan warungnya.

Loh... saya kan pesen laksa di sebelah sana Bu. Kalo minumnya di sebelah sini kan repot. Jadi mendingan sekalian aja ibu bawa minumannya ke sebelah sana, biar saya makan sambil minumnya disitu,” ujarku sambil menunjuk pada lokasi bangku-bangku kayu yang juga ada di depan danau (hanya saja lokasi yang kutunjuk ada di depan penjual laksa).

“Nggak bisa mbak. Kalo mbak beli di warung saya, berarti mbak duduknya harus di situ,” ujarnya tegas sambil kembali menunjuk pada deretan bangku kayu yang ada di depan warungnya.

Hayyaaahh... sumpehhh... gue keder jadinyahhh...(-_-*)

Akhirnya aku tidak jadi beli bir pletok dan balik badan menunju penjual laksa. Kemudian, sambil menunggu laksa dan toge goreng yang kami pesan matang, kami melangkah menuju bangku kayu di depan danau.

Baru saja bokong mendarat di atas bangku tiba-tiba aku mendengar teriakan kencang, suara seorang perempuan! Tidak jelas apa yang diucapkan perempuan itu, yang jelas seperti makian... Aku pun menoleh dan betapa kagetnya melihat Miss Jutek memandang kami dengan tatapan marah membara. Mulutnya komat kamit melontarkan kata-kata pedasss.. :O

Aku sendiri lupa apa yang ia lontarkan, intinya ia ingin menegaskan pada kami, kalo kami TIDAK BELI MINUM di warungnya, kami TIDAK BOLEH/DILARANG duduk di bangku kayu di depan danau!!!

Tepat pada saat itu penjual laksa akan mengantar makanan pesanan kami. Dengan baki ditangannya, penjual laksa berdiri diam, terlihat bingung sambil memandang kami dan Miss Jutek bergantian. Melihat hal tersebut aku segera berdiri menghampiri penjual laksa dan bertanya padanya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Miss Jutek terlihat emosi pada kami.

Dengan singkat penjual laksa menjelaskan, SIAPAPUN yang membeli makanan ditempatnya (si ibu penjual laksa-red), HARUS memesan minum kepada Miss Jutek, TIDAK BOLEH/DILARANG membeli minum di warung lain. Jadi ceritanya si penjual laksa ini partner-nya Miss Jutek.

Kalo kami TIDAK MEMESAN MINUM di warung Miss Jutek, maka kami TIDAK BOLEH/DILARANG duduk di bangku kayu di depan danau!!!... :O

Oalaaa... pantes aja Miss Jutek ngomel-ngomel dan pantes aja si penjual bir pletok menolak mengantarkan minuman pesanan kami ke bangku kayu yang letaknya di depan warung Miss Jutek. Jadi ternyata area bangku kayu tersebut sudah DI KAPLING-KAPLING oleh penjual yang ada di situ... ckckck :O

Satu lagi yang bikin aku heran seheran herannya... penjual laksa kembali menjelaskan bahwa SIAPAPUN yang membeli KERAK TELOR atau BIR PLETOK/MINUMAN LAIN, BOLEH duduk di bangku kayu di depan danau.

Dan bagi mereka yang TIDAK MEMBELI kedua item itu (kerak telor maupun minuman-red), DILARANG/TIDAK BOLEH duduk di bangku kayu di depan danau!!!
What the f*ck!!!

Pantes aja saat kami membeli Kerak Telor kami dibiarkan duduk di bangku kayu di depan danau. Aku langsung mahfum dengan penjelasan sang penjual laksa. Kami pun memutuskan untuk tidak memesan minuman sama sekali!
(Ngapain juga gue pesen minuman? gue malah pengen cabut buru-buru dari situ! huh!)

Dan sebagai konsekuensi karena tidak memesan minuman, kami harus puas dapet tempat duduk di bangku kayu persis di belakang gerobak penjual laksa.. ckckck.. parahhh... :O

Di tempat inilah akhirnya kami makan.. :p

Yang bikin tambah bete... melihat kami tidak kunjung memesan minuman, Miss Jutek (yang warungnya persis di sebelah penjual laksa) terus saja memasang muka sadisss... ya Alloh... :O

Sambil makan, dengan santai aku mengutarakan kekecewaanku pada penjual laksa. Kukatakan padanya bahwa ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku bertandang ke Setu Babakan. Perlakuan dan kata-kata kasar dari Miss Jutek sungguh tidak bisa aku terima.

Kukatakan juga kalo sistem berdagang di tempat ini masih seperti ini terus, pasti lambat laun pengunjung akan hengkang dengan sendirinya. “Seperti saya, saya kapok datang ke sini,” ucapku enteng.

Ibu penjual laksa terdiam. Dia pun menghampiri penjual lain yang ada di sebelahnya. Entah apa yang mereka diskusikan. Yang jelas, setelah makan kami bergegas pergi dari tempat itu sambil membawa kenangan pahit.. :p


*Siapapun yang bertindak sembrono dalam hal kecil, tidak dapat dipercaya untuk hal-hal besar.* - Albert Einstein


>>> Well... pariwisata Indonesia tidak akan bisa maju kalo pengelolanya masih kacrut... !


Salam
Ifa Abdoel

16 comments:

  1. trimakasih atas infonya mbak ifa,gak percuma sy baca postingan mbak ifa ampe kelar,biar jadi pembelajaran saya kalo jajan di setu babakan biar gak sembarangan.
    awalnya lagi browsing nyari" akses menuju setu babakan,eh malah nyasar ke blog mbak ifa.
    tapi lumayan lah,gak sia sia baca ampe kelar.masih ada yg bisa di petik.
    sekali lagi terimakasih ya mbak ifa..!

    ReplyDelete
  2. sippp... :)
    makasih ya udah mampir ke blog sy :D

    ReplyDelete
  3. Sama mba, aku juga pernah ngalamin hal yang sama. Akhirnya ortu ku ngalah beli minum di tempat penjual jutek (ga tau deh orangnya sama apa ngga). kirain kita doang, ga taunya yang lain juga ya? sayang deh, padahal kan itu pusat kebudayaan betawi dan termasuk hiburan murmer... huks

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba ranie.. sayang banget yah? mudah2n tulisan ini dibaca oleh pengurus wisata di setu babakan sehingga ada perbaikan, terutama terhadap perilaku pedagang yang berjualan di sekitar setu, amin.. :)

      Delete
  4. hadeuh, padahal saya berencana untuk mengadakan reuni SD di lokasi setu babakan ini, bagaimana kelanjutannya nich?

    ReplyDelete
    Replies
    1. mendingan survey dulu mbak, mgk sekarang udh lebih baik pengelolaan pedagangnya :)

      Delete
    2. kata siapa lebih baik mbak ? Masih sama kok mbak, jangan kuatir. Rumah saya di setu babkan lho, jadi tiap hari bisa liat yg seperti itu. Tapi saya pendatang kok, bukan orang asli setu babakan.

      Delete
    3. waduhhh... parah dong ya klo bgt.. :(

      Delete
  5. sekedar memeberi pencerahan saja, kebetulan saya asli tinggal setu babakan, saya jg punya warung di setu babakan, dan pemancingan, tidak di pungkiri system penjualan di setu babakan seperti itu, cm tidak semua penjual bersikap seperti itu terhadap konsumennya, apalagi yg notabane warga asli sana,krna tidak semua penjual di sana adalah warga asli setu babakan, kebanyakan mereka adalah pendatang, memang sangat di sayangkan atas sikap dan system penjualan mereka,....jadi dimaklumi saja mereka pendatang yg hanya ingin mendapatkan untung, padahal bila penjual yg bersikap ramah dan menghormati konsumen, dengan sendirinya konsumen akan merasa puas dan pasti akan kembali berkunjung, singkatnye sih, masih bnyak penjual di setu babakn yg ramah dan menghormati pengunjungnye, apalagi yg bener2 warga asli setu babakannye, begitu aje sih pendapat aye mpo2 dan abang2 sekalian,...wassalam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. cara tau pedagang yg asli situ babakn dan yg pendatang bgmn?
      klo sdh tau para pedagang pendatang spt itu knp tdk ditegur atau diberi pengarahan cara berdagang yg baik bgmn? apa tdk ada usaha utk itu?

      Delete
  6. I would like recomended, when u come to setu babakan.... dont hesiste come to my place Msc Pangsi Betawi

    ReplyDelete
  7. Iya beda2 dan banyak yg jualan..saya pertama ke sana bapak2 jual toge goreng baik.. itu yg miss jutek kayaknya saya pernah jg wkt ke dua saya ke sana ..beli toge goreng jg dan isinya banyak bgt trus rasa ga seenak bapak2 pertama.

    Ms jutek itu kayaknya yg rada di atas ya? tempat lumayan strategis

    ReplyDelete
    Replies
    1. sy lupa tempatnya ms jutek di sebelah mn.. (-_-!)

      Delete
  8. waduuhh..baru browsing2 pengin lihat setu babakan yang katanya situs kebudayaan betawi...malah dapat cerita yang begini, jadi berpikir ulang dech..kalau ternyata kondisinya masih sama aja sampai sekarang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba aja dtg kesana, kali aja udah berubah

      Delete