"Just because you can't see it, doesn't mean it isn't there" - Laut bukan tempat sampah!

4/11/12

"Goa Ini Tempat Bermain Kami" (Menembus Perut Bumi @ Goa Jomblang - Grubug)


Cerita sebelumnya.. Adu Adrenalin @ Goa Kalisuci

Titik-titik air bergerak turun dengan cepat,
menimpa tubuhku  tanpa ku berusaha untuk menghindar..
Aku terpaku  menatap semburat cahaya hangat nan mesra,
yang merangsek masuk dari celah ranting dan dedaunan..
Ia begitu indah,
buatku terus mengucap nama-NYA..” (Ifa Abdoel - @Grubug Cave)

Day 2 (25 Maret 2012) - Gn. Kidul

Pkl. 07.00 pagi aku telah siap menunggu kedatangan Pak Man -petugas dari Goa Jomblang-Grubug-  yang ditugaskan Mas Cahyo untuk menjemput kami di penginapan. Dari arah pintu masuk terlihat sebuah mobil double gardan memasuki pekarangan hostel. Warnanya Orange dengan suara mesin yang berisik, ku sungging senyum saat memandangnya.

 Gue dan Orange.. ^.^

Teriak aku memanggil para ‘ladies’ yang masih santai di kamar mereka.. (-_-“)  Para ‘ladies’ ini emang lama banget dah packingnya, parahhh.. *nunjuk ke arif, mbot, n ifan.. :p*

Sekitar pkl. 08.30 WIB kami bergerak  meninggalkan penginapan sekaligus check out. Hari itu kami berencana untuk bermalam di resort yang ada di Goa Jomblang atas rekomendasi Mas Cahyo. Oya, sebelumnya kami memang telah menghubungi Mas Cahyo via telepon untuk penjelajahan Goa Jomblang – Grubug ini.

FYI: Mas Cahyo atau lengkapnya Cahyo Alkantana adalah pemilik tempat wisata minat khusus Goa Jomblang & Grubug. Sebelumnya perlu diluruskan, pemilik tempat wisata bukan berarti pemilik goa yah.. Karena Goa Jomblang & Grubug adalah milik umum, milik masyarakat sekitar.. bukan milik perorangan. Siapapun bisa masuk ke dalamnya. Tak heran jika banyak orang, entah itu mahasiswa atau penggiat/pecinta alam yang bisa masuk ke dalam Goa Jomblang - Grubug tanpa harus melalui Mas Cahyo and kru.. ;)

Lanjuttt...

Orange bergerak pelan membawa kami di atasnya. Aku tak banyak bicara saat perjalanan karena suara mesin Orange yang begitu ribut. “Hm.. jalanannya bagus.. mulus.. beraspal,” batinku sambil memandang jalan raya yang dipinggirnya tumbuh pohon-pohon hijau.

“Selamat Datang di Kawasan Wisata Minat Khusus Kalisuci”, begitu nama bilboard yang terpasang di pinggir jalan. Kami saling pandang.. ternyata Goa Jomblang – Grubug ini dekat dengan Kalisuci, tempat kami  bermain cave tubing kemarin.

Dari belokan dimana papan bilboard itu terpasang, perjalanan off road pun dimulai.. Orange oleng ke kiri – kanan, mengikuti kontur tanah yang tidak rata. Kami cekakakan di dalam, sibuk mengomentari jalanan yang membuat bokong sakit.. :)))

 Jalur off road..  

Sepuluh menit berlalu, kami tiba di lokasi wisata minat khusus Jomblang – Grubug Cave. Kawasan wisata minat khusus ini berada di Desa Jetis Pancarejo, Kec. Semanu, Gn. Kidul, Yogyakarta. Jantungku berdegup cepat. Rasaku ingin bertemu Goa Jomblang – Grubug begitu menggebu. I’m really exciting.. ^.^ Kulangkahkan kaki di rerumputan hijau yang rebah di pelataran resort.

 Selamat datang di kawasan wisata minat khusus
Jomblang - Grubug Cave.. ^.^

Resort di kawasan Goa Jomblang
dan suasana teduh di sekelilingnya..

Beberapa pohon kelapa berbaris rapih di depan 4 buah bungalow mungil bergaya minimalis. Mas Adi menyambut kami dengan senyumnya yang mengembang.. ^_^  Mas Adi adalah seorang penelusur goa yang kebetulan menjadi guide kami hari itu. Ucapan selamat datang dan sedikit basa-basi ia lontarkan. Sejurus kemudian ia meminta kami meletakkan barang-barang bawaan kami di dalam bungalow dan mempersiapkan diri untuk penelusuran goa.

Begitu Mas Adi menghilang dari pandangan kami, bergegas kami ganti baju dan menyiapkan kamera sebagai bekal bernarsis ria...

Waktu menunjukkan pkl. 09.00 WIB. Suasana di sekitar resort begitu cerah.. matahari bersinar lembut membungkus langit biru. Sesekali awan putih tampak berarakan seolah berkata kepadaku, "Hi.. aku lihat kamu.." ngayal.com ^_^

Kembali ku jejakkan alas kaki di rerumputan hijau yang rebah. Kontur tanah di resort ini menurun.. Undakan-undakan anak tangga yang terbuat dari batu gamping terlihat di beberapa sudut.

Dari kejauhan aku melihat Mas Adi sedang mem-briefing 6 orang peserta lain (dari Bandung). Beberapa orang kru lainnya sedang mempersiapkan tali temali dan memasang peralatan ke tubuh peserta. Aku melangkah mendekat. Untuk beberapa saat aku terkesiap..

Di depanku terbentang sebuah lubang raksasa berdiameter 50 m yang sangatt besarr.. Lubang itu adalah pintu masuk/mulut Goa Jomblang..^_^

 Goa Jomblang, hutan jati, dan langit biru..

Duduk di sisi lubang.. awesomehh.. ^.^

Rasaku seketika membuncah.. senang luar biasa.. ^_^ Akhirnyaa... aku bertemu dengannya, dia yang selalu menggoda pikiranku.. Goa Jomblang.. akhirnya kita bersuaa..  ^_^
Mas Adi kembali mengembangkan senyumnya saat melihat tingkah polah kami yang super hebohh.. dan norakk abiss..;))

Seorang kru mendekatiku. Dengan sigap ia melilitkan harnes caving ke tubuhku.
Mas Adi memberi komando, “Harnes yang ada di badan Mbak mampu menahan beban hingga 2 ton. Begitu pula dengan tali yang akan dipergunakan untuk turun maupun naik. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucapnya.

 Inilah gaya gue saat pake harnes caving :p

 Foto keluarga dulu sebelum turun.. ^.^

FYI: Untuk keamanan, tempat wisata ini menggunakan standard internasional. Tiap 3 tahun sekali dilakukan peremajaan (pergantian alat dengan yang baru) atas seluruh peralatan maupun tiang-tiang pancang yang dipergunakan untuk turun/naik goa, safety first gan.. ;)

Setelah tubuh kami semua terpasang harnes, Mas Adi kembali memberikan briefing singkat tentang proses up/down lowering (proses penurunan/penarikan saat turun/naik goa). Teknik yang kami gunakan adalah single rope technique (menggunakan satu lintasan).

(kiri) : Briefing singkat dari Mas Adi.
(kanan) :  Jalur masuk ke dalam goa.

“Oke.. siapa yang mau duluan?” tanya Mas Pitik. Mas Pitik adalah salah seorang pengelola wisata minat khusus Goa Jomblang – Grubug.
“Aku..,” ucapku lantang.
Yang lain menoleh, mungkin mereka pikir, “Semangat amat nih cewek," hihihi.. ;))

Dengan langkah pasti aku berjalan menuju Mas Pitik yang menungguku di bibir lubang. Di tubuhnya juga terlilit harnes. Beberapa saat kemudian, Mas Pitik sibuk mengaitkan beberapa tali ke harnes yang melilit tubuhku. Aku tenang saja..

“Mbak, lepas talinya,”
Aku menurut.
“Mbak, lepas tangan saya,”
Aku diam.
Perlahan, Mas Pitik melepas satu persatu jari jemariku yang mencengkram kuat pergelangan tangannya, dimulai dari jari kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, hingga ibu jari.
Begitu terlepas, aku memegang erat pada tali.
“Mbak, lepas talinya.. dilepas talinya. Kalo nggak dilepas Mbak nggak bisa turun,”
Aku nyengir tapi tak kunjung melepas tali tersebut.
“Mbak, lepas talinya,” ucap Mas Pitik tegas.
Kali ini aku menurut, kulepas talinya. Dadaku berdegup kencang.
“Mbak, sekarang jongkok, trus turun pelan-pelan.”
Setengah terpaksa, aku menurut ucapan Mas Pitik. Perlahan kakiku mulai menggelesor ke bawah sampai tak berpijak lagi. 

(Adegan di atas terjadi di bawah sadarku. Aku sama sekali tidak ingat adegan di atas sampai tiba malam hari saat aku, Mas Pitik, dan Ika berbincang-bincang. Kalo kata Mas Pitik sih saat itu muka gue udah berubah pucet pasi hihihi..  asli cuy.. gue kaga ingettt kejadian ini saking tegangnyahh.. hagagagagg.. :))

 Step by step sebelom gue turun,
nyengir selalu walau tak ada yg perlu dinyengirkan.. ;p

Tali mulai mengendur.. bergerak turun ke bawah tanpa bisa kucegah.. Ada sekitar 15 orang yang berdiri di barisan penarik tali. Dengan kekuatan tenaga, mereka membantuku turun ke dalam goa. 
Terdengar aba-aba dari atas. “Pelan... tahan... pelan.. tahan..“  begitu terus sampai disuatu titik, suara aba-aba itu tak terdengar lagi.

Jantungku berdebar keras. Entah diketinggian berapa meter dari bawah permukaan tanah aku menggelantung.. sendiri.. memasrahkan dan mempercayakan jiwaku pada seutas tali. Bibirku bergetar terus mengucap nama-NYA.. tiada henti.. berulang-ulang.. terus-menerus.. -_-! *pokoknya jiper abis deh gue.. :'(

Di hadapanku berdiri kokoh dinding goa yang berlapis batu gamping, sunyi kurasakan..
Iseng aku menoleh ke belakang.. *menyesal kumelakukannya karena hal itu menyadarkanku bahwa aku sedang menggelantung di seutas tali di sebuah lubang raksasa setinggi 60 m dari permukaan tanah.. ;'( *
Cepat kembali ku menoleh ke dinding goa.

Ya Alloh.. sampe segininya yah ternyata,” batinku kebat-kebit. Aku yang pada dasarnya parno/takut/phobia pada ketinggian, kali ini harus berani menghadapi rasa takut akan ketinggian demi menuntaskan mimpi.. -_-"

Tali pun kembali bergerak turun. Beberapa kali aku harus menabrak dahan-dahan pohon yang berakar di dinding goa.. Agak sakit memang, tapi tak masalah.. yang aku harap cuma satu.. segera mencapai permukaan tanah!

Menggelantung di seutas tali.. 

Pasrah pada kuasa Ilahi..

Entah berapa lama aku harus menggelantung, akhirnya aku tiba juga di permukaan tanah, alhamdulillah.. ^_^  Sudut mataku terasa panas, ada air yang menitik di situ.. Entah apa yang aku rasakan saat itu.. takut.. senang.. lega.. semuanya bercampur baur.. ^_^

Di dasar goa aku melihat kelompok yang pertama turun sedang mendengar penjelasan dari Mas Adi. Aku ikut nimbrung mendengarkan. Sambil mendengarkan aku memandang ke sekeliling. Hutan kecil yang ada di Goa Jomblang ini begitu asri. Pepohonannya yang cukup lebat dan rindang menaungi bebatuan di bawahnya. Hutan kecil inilah yang menjadi keunikan Goa Jomblang.

Hutan kecil di dalam Goa Jomblang.

Aneka tumbuhan yang hidup di Goa Jomblang..
FYI: Di beberapa tempat di P. Jawa ada beberapa goa yang memiliki pintu masuk berupa lubang (seperti Goa Jomblang) tapi hanya Goa Jomblang lah yang masih memiliki hutan dengan tanaman purba di dalamnya.

Salah satu tumbuhan purba, Genipa Americana.
Merica-mericaan, daun airmata, dan cabe-cabean.

Sedangkan penelitian untuk karst (bebatuan dalam goa) itu sendiri, tidak ada di goa ini. Walaupun begitu, Mas Adi memberikan sedikit ilmunya. Jika dibandingkan dengan Goa Kalisuci, karst yang ada di Goa Jomblang jauh lebih tua. Stalagtit maupun stalagmit yang tumbuh di dalam Goa Jomblang - Grubug adalah karst yang sudah mati (tidak bisa tumbuh lagi).

Stalagtit yang sudah mati.

Setelah semuanya turun dan berkumpul, Mas Adi mengajak kami memasuki lorong goa.
"Seperti biasa, ada 3 hal yang harus kita perhatikan dan patuhi saat akan memasuki goa. Pertama, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki, jangan mengambil apapun kecuali foto, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu," tandas Mas Ady.
siyaaapppp mas.. ^.^

Kami pun bergerak mengikuti jalan berbatu yang mengarah ke lorong Goa jomblang. Di beberapa lokasi aku melihat pita kuning/hitam membentang. Kami dilarang melintasi wilayah yang diberi pita kuning/hitam demi melindungi flora yang ada di dalamnya.

Hati-hati aku melangkah melewati jalan bebatuan yang licin. Udara terasa lembab. Bekas air hujan tampak menggenang di atas dedaunan dan celah-celah batu. Sesekali aku berhenti untuk mengabadikan flora-flora yang menggoda pandanganku.

Di depan salah satu tebing kami berhenti. Di dinding tebing tersebut aku melihat dua lembar kain terbentang. Ternyata, lembaran kain tersebut adalah bekas pemanjatan yang dilakukan orang/pihak lain (pihak-pihak inilah yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan pada goa dan isinya). Seperti yang kujelaskan sebelumnya, siapapun bisa masuk ke dalam goa ini. Dan tebing setinggi 14 m ini menjadi jalur terfavorit (jalur VIP) untuk masuk ke dalam goa karena tidak terlalu tinggi.

(Atas): Jalur VIP. (Bawah): batang pohon yang penuh coretan.. :'(

"Goa ini tempat bermain kami... oleh sebab itu kami berusaha menjaga tempat ini agar tidak rusak. Ini salah satu sebab mengapa Mas Cahyo membeli tanah di sekitar goa ini, agar bisa menjaga goa ini dari tangan-tangan jahil dan menghindari kepunahan flora maupun fauna yang ada di dalamnya," tutur Mas Adi.

"Goa ini tempat bermain kami..." indah sekali kedengerannya.. coolll... ^_^

Kemudian kami bergerak kembali. Tak lama, kami tiba di mulut lorong Goa Jomblang..
Mulut lorong Goa Jomblang ini soooo... hughhh... besaaarrr sekaliiii...
Aku berdiri, diam mematung, memandang penuh kagum. Baru sekali ini aku melihat mulut goa yang begitu besar.. ^_^

Mulut lorong Goa Jomblang, so.. hugh.. ^.^

Memasuki lorong Goa Jomblang.. ^_^

Setelah mengabadaikannya dalam jepretan kamera, aku melangkah turun. Jalan menurun menuju mulut lorong sangat licin karena air abadi yang terus menetes dari stalagtit goa.. you have to be carefull passing this way.. ^_^

Foto keluarga di mulut lorong.. uhuyy ^.^

Teuteup kudu narsis.. :))

Berbekal senter kami bergerak masuk ke dalam lorong Goa Jomblang. Penelusuran lorong goa yang kami lakukan adalah sejauh 280 m, dan akan berakhir di Goa Grubug! Yup.. lorong Goa Jomblang ini akan membawa kami menembus perut Goa Grubug dimana "Ray of Light" berada.. awww.. ^.^

Aku memilih untuk berjalan di atas tanah liat yang becek dan berlumpur dibanding jalan setapak berupa batu gamping yang tersusun dengan alasan licin. Setelah agak jauh ke dalam, tanah yang becek dan berlumpur berganti dengan bebatuan cadas.. batu gamping!

Entering Jomblang Cave..

Goa Jomblang dan Grubug memang tersusun dari bebatuan gamping yang terkenal sangat kuat dan kokoh. Itu sebabnya batu gamping sangat diburu oleh masyarakat sekitar untuk dijadikan komoditi yang bisa dijual. Kisah lengkapnya ada di buku Journey To Amazing Sites

Pohon Jati yang tumbuh subur di gn. Kidul..

Batu gamping memang dikenal memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai bahan bangunan, bahan pupuk, pembasmi hama, dan  untuk penjernihan air. Alhasil, penambangan atas batu  gamping pun merajalela. Demi menghindari penambangan batu gamping di Goa Jomblang - Grubug inilah, salah satu alasan Mas Cahyo memutuskan untuk membeli tanah di sekitar Goa Jomblang - Grubug. Bravo deh buat Mas Cahyo.. ^_^

Huh! dari tadi interupsi mulu fa.. :p ^_^
Lanjutt...

Setelah beberapa saat masuk ke dalam, kami tiba di bat tunnel (lorong kelelawar). Menurut Mas Adi, sekitar tahun 80-an seorang peneliti dari luar negeri pernah melakukan pemetaan di lorong ini. Peneliti tersebut menamai lorong ini bat tunnel. Namun sejak dinamai bat tunnel, belum pernah ditemui kekelawar di lorong ini, hmm.. weird.. :p

Dari bat tunnel kami kembali melangkah hati-hati melewati reruntuhan batu gamping yang berserakan di dalam goa. Batu-batu gamping yang berserakan tersebut tadinya adalah stalagtit yang menghuni atap goa, namun akibat gempa berkekuatan 6,2 skala richter yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006, stalagtit itu runtuh..:O

(atas) : Mas Adi sedang memberikan penjelasan.
(bawah) : Berjalan di sebelah reruntuhan batu gamping.

Di satu titik, Mas Adi meminta kami semua diminta untuk berhenti dan memadamkan lampu senter. Suasana lantas menjadi gelap gulita. Kami diminta untuk merasakan kegelapan abadi dan keadaan yang sesungguhnya di dalam goa.. it's really dark and creepy..-__-"

Kemudian kami diminta menyalakan kembali lampu senter dan melanjutkan melangkah.  Di ujung lorong aku melihat seberkas cahaya. Deg-degan rasanya, apakah sudah sampai? Batinku.
Semakin mendekat cahaya itu semakin terang.

“Udah sampe ya  Mas? Itu ya Goa Grubugnya?” teriakku pada Mas Adi.
“Iya Mbak, udah sampe, kita udah sampe di Goa Grubug,” jawabnya kalem.
Hoaaaa... senangnyaaaaa... akhirnya aku sampai juga di tempat iniihhhh... *wuihhh.. rasanya pengen loncat-loncat kegirangan* ^_^

Di kejauhan aku melihat celah Goa Grubug menganga lebarrrr... semburat sinar putih yang redup memenuhi relung-relung celah, berpendar memenuhi Goa Grubug... sooo... beautifulll....

Goa Grubug.. soo.. beautifulll.. ^_^

Tatapan mataku tak lepas memandang sebongkah batu gamping yang selama ini menjadi icon Goa grubug.  Batu tersebut berwarna putih susu. Dindingnya membentuk gaurdam ukiran terasiring-terasiring kecil yang sangat cantik.. ^_^

Di atas batu, air abadi yang mengandung karbonat, keluar dari celah-celah stalagtit goa, meluncur deras seperti hujan..^.^

Me and icon Grubug Cave.. ^.^

Aku berdiri tepat di atas batu dan meraskan tubuhku basah kuyup tertimpa air. Rasa dingin mulai merambat, tapi tak kugubris.. Aku benar-benar terpesonaa.. I'm in love with Grubug.. ^.^

 Di atas batu icon Goa Grubug.. mantaf gan.. ^.^

Basah kuyup kena tetesan air dari atas batu.. ^_^

Gourdam.. ^.^

Tertimpa sinar matahari di tepian gourdam.. ^_^

Kemudian aku menengadahkan wajah, melihat sumber cahaya Goa Grubug berasal. Terlihat olehku sebuah lubang besar menganga di atasku. Lubang di atasku ini adalah salah satu pintu masuk Goa Grubug.. :O
Dari lubang berdiameter 10 m itulah sinar matahari masuk ke dalam goa dan membentuk "Ray of Light".. whoaaa.. kerennn.. (/^_^)/

Tepat pada pkl. 11.00 WIB, sinar matahari mulai merembes.. merangsek masuk ke dalam Goa Grubug melalui celah dedaunan dan ranting yang tumbuh di mulut goa.. cantikkk sekaliii.. ^_^

 "Ray of Light" Goa Grubug.. kerennnn cuy.. ^.^

 Like 'the light from heaven'.. ^_^

Awesomehhh.. ^.^

Dari dasar Goa Grubug, aku bisa melihat jelas seorang mahasiswa penggiat goa yang sedang turun ke dalam Goa Grubug dengan seutas tali (rapling). Kamu tau berapa tinggi pintu masuk Goa Grubug ini? 90 m sodara-sodara!.. :O
*nggak kebayang kalo aku harus turun dengan tali dengan ketinggian 90m, gimana rasanya yah? yang 60 m aja aku udah kebat kebit parahh.. (-_-!)*

Seorang mahasiswa pecinta alam turun dgn seutas tali dari atas lubang Goa Grubug yang tingginya 90m!

Grubug hole... :O

Cahaya matahari yang menembus ranting dan dedaunan.. ^.^

Di bawahku suara gemuruh air begitu keras terdengar. Saat pandanganku menyapu bagian bawah goa, aku melihat sungai kecil dengan air yang cukup deras mengalir masuk ke dalam celah/lubang lain yang terdapat di Goa Grubug. Kata Mas Adi, di bawah perut Goa Grubug terdapat air terjun setinggi kurang lebih 14 m, dan ke situlah air sungai tersebut mengarah... ooowww... its really really coolll... ^.^

Sungai di dalam Goa Grubug.. amazinggg.. ^_^

Menatap sungai yang mengalir dibawah.. ^_^

Foto keluarga (part.1)... ^.^

Foto keluarga (part. 2). 
Sayang pixel kameranya kecil, fotonya jd banyak noise :p

Setelah puas menikmati indahnya Ray of Light, kami pun bergerak pergi. Waktu menunjukkan pkl. 12.30 WIB saat kami kembali ke Goa Jomblang. So long Grubug.. so long "Ray of Light".. hope we'll meet again, soon.. ^.^

Buat kamu yang ingin bekpekeran ke Goa Jomblang - Grubug, bisa membeli buku travel Journey To Amazing Sites , Pengarang: Ifa Abdoel, Penerbit: Elex Media Komputindo - Gramedia Group. Dalam buku tersebut terurai lengkap sarana transportasi, tip backpacking, akomodasi, contact person, hingga biaya wisata minat khusus Goa Jomblang - Grubug. Tak hanya itu, buku tersebut juga memuat perjalanan wisata ke tempat-tempat eksotik lainnya di Indonesia ala bekpeker.

Untuk kembali ke Goa Jomblang, aku harus melewati jalan yang sama dengan berangkat. Setibanya di hutan Goa Jomblang, kami beristirahat sejenak, makan siang, dan terus cekakakan.. Rasanya puas dan senang sekali hari itu.. ^.^

 Smile always.. ^.^

Lunch timeee.. ^.^

Sambil makan, Mas Adi bercerita sedikit tentang kisah menyeramkan yang dulu terjadi di Goa Jomblang - Grubug ini. Berdasarkan keterangan masyarakat sekitar, Goa Grubug merupakan tempat pembuangan para perampok emas dan orang-orang yang diduga terlibat G30S-PKI. Mau tau cerita lengkapnya? ada di buku Journey To Amazing Sites

Siap-siap naik ke atas... :O

Selesai makan, satu persatu kami kembali ke atas, di kerek kembali dengan tali. Seperti saat turun, jantungku rasanya mau lepas saat tali mulai menegang dan menarikku ke atas dengan cepat. Entah di ketinggian berapa meter dari bawah tanah, tiba-tiba aku stuck.

Tali yang seharusnya menarikku ke atas tiba-tiba berhenti. Kembali aku menggelantung.. sendiri.. Aku panik.. -__-" Tak ada yang bisa kulakukan selain menyebut nama-NYA.. -__-" Apalagi saat tubuhku tiba-tiba berputar dan menghadap lubang yang mengaga.. Alloh hu Akbar.. I'm really freak outtt! :'((

Untungnya keadaan tersebut tidak lama. Kembali tali yang mengikatku bergerak menarik. Saking kuatnya tarikan, beberapa kali kepalaku membentur dahan-dahan pepohonan yang tumbuh mengakar di dinding-dinding goa. Aku berteriak meminta pada mereka yang menarikku agar berhati-hati, tapi tak terdengar.. -__-" Aku pasrah..

"Lima meter.. 2 meter.. satu meter..," teriak salah seorang kru, dan huupp... aku tiba selamat di atas tanpa kekurangan suatu apapun.. Alhamdulillah.. ^_^

Abis mandi balik lagi ke goa.. hihihi.. ;))
Narsis lagih, sambil minum teh + gula batu.. mantaf gan.. ^_^

Sesampainya di permukaan aku langsung menuju resort untuk membersihkan badan yang basah kuyup dan berlumpur. Setelah itu, Mas Adi menemaniku melihat lokasi Goa Grubug dari atas.

Kami bergerak melalui pekarangan resort.. tempat parkir.. terus menembus hutan jati kecil. Kami pun tiba di mulut Goa Grubug. Kebetulan di tempat itu ada beberapa orang mahasiswa penggiat goa sedang melakukan latihan. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, lubang Goa Grubug ini tidak sebesar Goa Jomblang, diameternya hanya 10 m. Tapi tinggi lubang ini mencapai 90 m!

Pintu masuk Goa Grubug.. ^.^
Di tepi Goa Grubug yang tertutup rimbunnya pohon dan semak.. :O
Setelah melihat-lihat dan mengambil gambar, kami bergerak kembali ke resort. Di sana Arif, Mbot, dan Ifan sudah menunggu. Mereka memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta sore itu juga. Sementara aku dan Ika memilih untuk bermalam di resort Goa Jomblang. Dengan menumpang Orange, kami mengantar "para ladies" ke terminal bus. Kali ini yang nyetir adalah Mas Pitik.

Malam hari di resort begitu sepi.. hanya aku dan Ika yang menjadi tamu resort hari itu.. -__-"
Suara riuh jangkrik terdengar bersahutan. Aku bergerak masuk ke dalam, mengambil kamera dan tripod. Malam itu kami habiskan waktu dengan melakukan aksi naris-narsisan sampe capeee... :)))

Aksi gokil di malam hari ;))

Day 3 (26 Maret 2012), Gn. Kidul - Yogyakarta

Pkl. 07.00 aku duduk di depan resort, menunggu Pak Mar (yang akan mengantar kami ke kota Yogya), sambil sarapan mie dan roti ditemani teh hangat plus gula batu. Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Untuk membunuh waktu, kami kembali berbincang-bincang.

Suasana pagi hari di depan resort.. ^.^

Mengapa wisata Goa Jomblang - Grubug disebut wisata minat khusus? Karena hanya orang-orang tertentu (yang memiliki keberanian) yang mau datang ke tempat wisata ini. Wisatawan yang datang pun biasanya hanya pada wiken saja. "Selain itu, kami juga membatasi jumlah kuota yang turun. Kami hanya menerima maksimal 30 orang per harinya," tutur Mas Pitik.

"Emang berapa orang yang turun kemarin?" tanyaku.
"Dua puluh empat orang," jawab Mas Pitik.
Ia melanjutkan, dua bulan  belakangan ini, wisata minat khusus Goa Jomblang - Grubug memang dipenuhi pengunjung. Mungkin sejak tempat wisata ini masuk dalam acara Kick Andy di Metro TV kali ya.. ^.^

Setengah jam kemudian, Pak Mar datang. Kami pun berpamitan pada Mas Pitik dan pergi meninggalkan kawasan Goa Jomblang - Grubug. Pak Mar mengantar kami sampai di kawasan Malioboro, Yogyakarta.

Makan pecel di pasar Malioboro.. ^.^

Waktu masih menunjukkan pkl. 10.00 WIB. Aku dan Ika berkeliling di kawasan Malioboro, mencari oleh-oleh dan mampir sebentar di pasar untuk makan pecel.. ;)) Dari situ, kami menumpang bus transjogja menuju Bandara Adisutjipto.

Pkl. 13.45 WIB pesawat yang kami tumpangi tinggal landas dan mendarat di Jakarta sekitar pkl. 14.30. Welcome home Ifa.. ^_^

this journey is really different to me..  
chasing my dream..  
make it happen..
unbelievable.. I did it.. (/^_^)/


Salam
Ifa Abdoel

41 comments:

  1. mantap..membuat saya menggebu2 untuk kesana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes! it's really amazing place.. ga rugi deh kesana, keren abiz gan.. ^.^

      Delete
  2. alur kalimat bagus,,,
    alur penyampaian cerita bagus,,
    deskripsi tempat dan situasinya bagus,,

    rugi kalo ga nyambi jadi penulis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. thx ifan.. ^_^
      I'm a copywriter ;)

      Delete
  3. suka bangett sama semua pengalaman dan cerita-ceritanya.. lengkap dan berasa lg disana jg, toppp kaka :D

    ReplyDelete
  4. makasih ya udah baca & suka sama cerita2 aku... ^_^

    ReplyDelete
  5. Maaf boleh tau, apa gua ini oke untuk pure pemula/bener2 ga ada experience yah? :))

    ReplyDelete
  6. goa jomblang-grubug ini oke kok buat pure pemula krn aku sendiri baru pertama kali ini masuk ke goa vertical (sebelumnya aku belom pernah sama sekali). this is my first experience... :)

    kendala aku cuma satu: takut ketinggian (-_-*) tp alhamdulillah semuanya baik2 aja... ;))

    ayo coba aja... seru & amazing experience deh.. ^_^

    ReplyDelete
  7. hebattt..
    kendala ifa untuk melihat keindahan adalah ketinggian, coba dech klo tidak takut ketinggian pasti akan banyak melihat keindahan.. he2. betull ifa?

    selamat dech, krn utk melihat keindahan jomblang bth keberanian tinggi...
    salam dan sukses selalu

    ReplyDelete
  8. hehehe.. betul bgt. klo ak ga takut ketinggian pasti bakal lebih seru lg.. ;)

    makasih ya udah disemangatin.. ^_^

    ReplyDelete
  9. Keren!!
    Terima kasih ya sudah menulis catatan yang indah tentang kampung halaman saya!! :D
    di tunggu kupasan tentang tempat lain di semanu!!

    ReplyDelete
  10. sippp... ur welcome arie ^__^

    ditunggu aja ya jalan2 gue ke wilayah Gn. Kidul lainnya... *chasing dream again* ^__^

    ReplyDelete
  11. ceritanya lengkap banget, keren.
    makasih ka atas info2 contact personnya.
    i'll be there

    ReplyDelete
  12. sippp...
    ayoookkk datang kesana, Indonesia indah lho... ^___^

    ReplyDelete
  13. Pembukaan jalur Gua Jombang, dan pelestariannya membuat semakin kagum sama Cahyo Alkantana, selain banyak prestasi lain yg mengagumkan dari beliau. Sayang belum kesampaian bertemu langsung, dan ke gua Jomblang-Grubug. Pertengahan tahun ini, semoga. :)

    Thanks, Ifa.. Penjabarannya santai, seru dan bisa dibilang komplit.;)

    ReplyDelete
  14. tengkyuuuu... ^_^
    goa jomblang - grubug emang keren abisss...
    pengelolanya (Mas Cahyo) jg cihuy... ^_^
    mudah2n mbak lia bs kesana ya... aminnn ^_^

    ReplyDelete
  15. Salam kenal ifa :) tulisannya menarik bgt, aku juga jd tertarik kesana, aku boleh minta contact person pengelolanya gak? Terus sampai disana tiap groupnmemang ada tour guidenya kah? Makasih sebelumnya yaa :)

    ReplyDelete
  16. hi muthia... salam kenal jg ya..
    makasih ya udah baca tulisan aku :D
    klo mo kesana hub mas cahyo or mas pitik aja, no hpnya ada di artikel di atas.
    iyuppp... disana tiap grup ada tur guidenya, nanti mrk yg akan memberi pejelasan ttg goa jomblang-grubug...

    terima kasih kembali n have a nice trip... ^_^

    ReplyDelete
  17. keren! I'd be there too someday
    thanks ceritanya.. :'D

    ReplyDelete
  18. sama2 ichan... thx for reading my story... ^_^

    ReplyDelete
  19. Wuuih keren2 bener foto2nya. Tp serem liat foto yg di tepi jurang. goa jomblang emang keren. nggak bosen2 berkunjung ke
    goa yang satu ini. tempatnya tambah asyik habis di bangun.

    ReplyDelete
  20. makasih ya... ^_^
    gw sendiri ngerasa ngeri jg kok wkt foto ditepi jurang hihi... ;)) diberaniin2 aja ;))
    siplah... jgn bosen2 menikmati indahnya alam Indonesia yaaa... spektakuler cuyyy... ^___^

    ReplyDelete
  21. baru semalem gue diwhatsapp pacar gue pengen prewed di jomblang..eh ternyata tempatnya waw banget bahkan ceritanya mbak ifa luar biasa...saya harus segera masukin nih tempat ke list...thanks for informationnya mbak ifa..salam kenal...

    ReplyDelete
  22. wah... mantafff.. must be great bikin foto prewed di jomblang... ^_^

    salam kenal jg danang :)
    thx udh mampir ke blog saya.. ^__^

    ReplyDelete
  23. itu nomor guidenya masih aktif kak??? salam damai kak :D

    ReplyDelete
  24. yesss... msh aktif.
    coba aja dihubungi... :)

    ReplyDelete
  25. kebahagian emang nggak bisa dibeli dengan uang.
    tapi uang bisa membeli akomodasi buat travel, dan dengan travel, kita bahagia.

    semoga saya punya banyak uang. :)

    ReplyDelete
  26. aminnn... semoga kita semua punya banyak uang :D

    ReplyDelete
  27. Siip, ijin share artikelnya ya mbak ifa yang baik :)
    u/ saya share disini http://surono-berbagi.blogspot.com/2013/09/daftar-wisata-goa-alam-di-gunungkidul.html

    ReplyDelete
  28. mbak, mau nanya dong. biaya buat masuk ke goanya berapaan yah? katanya mahal ya? trims buat jawabannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi nikki... info biaya dan sebagainya (wisata minat khusus goa jomblang-grubug) ada di buku saya, "Journey To amazing Sites"
      mengenai mahal/tdknya tergantung kitanya. klo saya sih it worth ya dg apa yg sy dpt saat berkunjung kesana. ga merasa rugi n ga merasa nyesel..cos its amazing place :)

      Delete
  29. mba Ifaa.. keren bgt, jd pengen kesana.. jd ikut deg degan pas baca ceritanya.. pasti memacu adrenalin dan keberanian bgt, apalagi pas lampu senter dimatikan dan waktu bergelantungan untuk turun menuju goa nya.. masuk wishlist deh hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi rika...
      makasih ya udah baca cerita aku :)
      yeupp..setuju sm km, hrs masuk wishlist hehe...:D

      Delete
  30. Wuih, sampai ikut tegang membaca ceritanya, goa Jomblang ternyata keren banget, saya yang aseli dari gunungkidul malah belum pernah mengunjunginya, bolehkah minta nomer telepon pengelolanya di sana Mbak ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi... makasih ya udah baca cerita sy :)
      info untuk pengelola wisata goa jomblang-grubug dsb, ada di buku sy, "Journey To Amazing Sites", bisa dibeli di Gramedia.

      thx :D
      Ifa

      Delete
  31. mbak bisa minta no hp cp pengelola wisata gua jomblang sekalian no telp resortnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. no tlp cp pengelola n tlp resort semua ada di buku saya "Journey To Amazing Sites", saya akan senang sekali jika bapak mau membelinya di Gramedia terdekat. terima kasih :)

      Delete
  32. ok thk infonya segera meluncur ke gramed

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih.. selamat membaca dan selamat berlibur :)

      Delete